Kesehatan
Ketika Buah Hati Terlalu Montok

Ketika Buah Hati Terlalu Montok
Bahkan obesitas terutama pada anak usia 6-7 tahun bisa menurunkan tingkat kecerdasan. Karena aktivitas dan kreativitas mereka menjadi menurun dan cenderung malas.

Obes, biasa ia dikenal. Ini bukanlah nama seseorang atau suatu tempat. Obes atau lengkapnya obesitas adalah kegemukan yang berlebihan (over weight). Ketika ia menghinggapi anak-anak, si kecil berpeluang besar mengidap penyakit yang membahayakan jiwanya!
 
Mungkin saat mereka masih bayi, gemuk membuatnya tampak lucu dan menggemaskan. Tapi, bila menginjak usia prasekolah (4-6 tahun) status gizinya masih obesitas, ini perlu menjadi perhatian khusus orang tua.
 
Jika tidak teratasi, anak obes dapat menderita masalah kesehatan yang serius. Penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, hingga penyakit jantung atau gagal jantung, dan stroke ketika dewasa.
 
Masalah psikososial dan emosional (rendah diri, problem pada pola tingkah laku dan belajar, depresi) juga menghantui. Bahkan obesitas terutama pada anak usia 6-7 tahun bisa menurunkan tingkat kecerdasan. Karena aktivitas dan kreativitas mereka menjadi menurun dan cenderung malas.
 
Obesitas sebagai Ancaman
Lebih dari sembilan juta anak di dunia berusia enam tahun ke atas mengalami obesitas, lapor Dennis Bier dari Pediatric Academic Society (PAS). Sejak tahun 1970, obesitas meningkat di kalangan anak. Hingga kini angkanya terus melonjak dua kali lipat pada anak usia 2-5 tahun dan usia 12-19 tahun, bahkan meningkat tiga kali lipat pada anak usia 6-11 tahun.
 
Di Amerika Serikat, menurut Asosiasi Obesitas Amerika, angka obesitas pada anak-anak dan remaja terus meningkat. Di Indonesia, prevalensi (jumlah keseluruhan) obesitas pada anak-anak sudah meningkat menjadi 20% pada tahun 2003 dari sekitar 5-6% pada tahun 1989.


Dr. Damayanti R. Syarif, Sp.A (K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta bertutur senada. Dari penelitian yang dilakukan di empat belas kota besar di Indonesia, angka kejadian obesitas pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dengan nilai yang terus meningkat hingga kini.
 
Unik memang, di negeri yang jutaan anak mengalami malnutrisi (gizi buruk) ini, di sisi lain ada jutaan anak yang mengalami obesitas. Faktor makanan ringan selain makanan rumah (jajan) plus budaya miskin gerak (berlimpahnya waktu di depan televisi atau komputer), diduga sebagai kambing hitam.
 
Mencegah dan Mengendalikan Obesitas
Kepada anak yang rakus makan dan terlanjur gemuk, bukan berarti dunia sudah kiamat. Kuncinya ada pada keluarga. Ada banyak cara mengendalikan obesitas. Namun berbeda dengan orang dewasa, berat badan mereka tidak boleh diturunkan, karena akan menghilangkan zat gizi untuk pertumbuhan.
 
Mengutamakan makanan berbahan segar yang cukup protein, karbohidrat, sayuran dan buah. Tidak memberikan makanan atau masakan dengan kandungan lemak tinggi (bersantan kental), memilih daging yang tidak berlemak, adalah pola makan yang dianjurkan.
 
Begitu juga dengan kebiasaan alami anak-anak untuk beraktivitas fisik, terutama kegiatan di luar ruangan (outdoor), harus diberikan dalam porsi yang berlebih. Kurangi jam menonton televisi atau komputer. Karena tujuan yang harus dicapai adalah pola makan sehat dan perubahan gaya hidup, bukan jumlah kilogram yang bisa dihilangkan.
 
Jadi, bagi Sahabat yang diamanahi Allah untuk memiliki buah hati, segera hapus anggapan bahwa anak montok itu sehat. Karena amat mungkin bila kemontokannya adalah obesitas. Dan menjadi ancaman bagi masa depannya.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
Membuka Lawang Sighotaka
Membuka Lawang Sighotaka
07
Apabila ibu mengalami stres dan terjadi perubahan pada poros atau aksis HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal), otak janin akan berkembang sesuai dengan arah pengaruh. Hasil penelitian menunjukkan,