Artikel Islami
Musa Dewasa

Musa Dewasa
Musa tumbuh menjadi pemuda dewasa. Ia tidak hanya memiliki badan kekar namun juga keobjektifan dalam berpikir. Dua kekuatan itulah diantara hal yang akan menghiasi lika-liku perjuangannya.

“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir´aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)"”. (Q.S. al-Qashash/28: 15).
 
Musa tumbuh menjadi pemuda dewasa. Ia tidak hanya memiliki badan kekar namun juga keobjektifan dalam berpikir. Dua kekuatan itulah diantara hal yang akan menghiasi lika-liku perjuangannya.
 
Bani Israil berada dalam penjajahan bangsa Qibthi.  Mereka memperlakukan dengan semena-mena. Di bawah kepemimpinan Fir’aun, peradaban Mesir dibangun di atas penderitaannya. Sudah sangat banyak kaum Bani Israil yang rela meregang nyawa memenuhi ambisi penguasa tersebut.
 
Sebetulnya Bani Israil telah melakukan daya upaya agar keluar dari kondisi ini. Namun upayanya terlampau lemah dibanding kekuatan aparat Fir’aun. Namun mereka sadar bahwa kewajiban berikhtiar harus tetap dijalankan maksimal. Oleh karenanya, mereka tanamkan kesabaran sembari menyongsong pertolongan Allah dengan menjalani berbagai jalan keluar.
 
Suatu hari, Musa dewasa mendapati perseteruan antara pemuda suku Qibthi dengan pemuda Bani Israil. Pemuda Qibthi semakin berani karena yakin Musa akan membelanya. Di saat demikian, pemuda Bani Israil meminta bantuan kepada Musa.
 
Musa berada dalam kondisi dilematis. Ia dibesarkan oleh Fir’aun yang diharapkan bisa menjadi pelanjutnya memimpin dan meluaskan pengaruh kaum Qibthi. Namun ia sadar bahwa dirinya adalah keturunan Bani Israil yang sekarang sedang membutuhkan penyelamat agar bisa keluar dari penjajahan dan penindasan kaum Qibthi.
 
Dalam kondisi demikian, Musa harus bertarung dengan waktu. Ia harus sesegera mungkin memutuskan apakah membantu pemuda kaumnya (Bani Israil) atau membiarkannya. Ternyata, waktu yang tersedia tidak mampu mengurai kondisi dilematis. Ia yang menyaksikan pemuda Bani Israil begitu terpuruk dibelanya dengan memukul keras sang pemuda Qibthi.
 
Walau tidak berniat membunuhnya, namun keperkasaan dan kekuatan Musa membuat pemuda Qibthi itu meninggal seketika. Setelah kejadian itu, Musa sadar bahwa tindakannya akan mendatangkan bencana bagi dirinya. Ia pun segera bertobat dan mencari jalan keluar.
 
Hal yang dikhawatirkan Musa terjadi. Para pembesar Mesir yang mengetahui kejadian ini merespon keras. Mereka mengaitkan kembali Musa dengan ta’wil mimpi yang dulu dialami Fir’aun. Mereka sadar bahwa Musa lah gambaran tokoh Bani Israil yang ada dalam mimpi tersebut.
 
Kabar ini pun sampai ke telinga Musa. Ia tidak bisa menghindari terjadinya konfrontasi dengan pasukan Qibthi. Padahal kekuatan Bani Israil masih terlampau lemah untuk diorganisir. Melalui hasil kalkulasinya, Musa memilih keluar dari Mesir untuk menyelamatkan dirinya.
 
Musa dewasa bingung, arah mana yang harus ia tuju. Berbekal keimanannya, ia panjatkan do’a agar langkahnya senantiasa ada dalam tuntunan Allah SWT. Ia pun menetapkan memilih jalan menuju negeri Madyan.
 
Sesampainya di sana, Musa dewasa mendapati sebuah mata air yang sedang dipadati orang yang memberi minum kambing-kambingnya. Nampak di belakang, dua orang yang sengaja menghambat kambing-kambingnya yang ingin bersegera menuju mata air. Lalu Musa pun menghampirinya.
 
Ternyata, mereka adalah dua perempuan yang kesulitan memberi minum kambing bila masih ada kambing-kambing yang lain. Mengetahui hal itu, Musa dengan keperkasaan tubuhnya membantu mereka sehingga kebutuhan kambing bisa terpenuhi tanpa menunggu waktu yang lama.
 
Selepas itu, Musa berteduh seraya memanjatkan do’a. Ia sadar sedang berada di persimpangan perjuangan. Keselamatan Bani Israil yang ada dipundaknya harus ia topang dengan kekuatan lain di luar Mesir. Wallahu a’lam.
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
Ciri Keluarga Islami
Ciri Keluarga Islami
11
Hal-hal yang menjadi begitu penting untuk dilaksanakan, atau ada kriteria. Beberapa ciri keluarga Islami yang akan nampak dalam segenap kehidupan rumah tangga.